|
Seperti diperkirakan, gempa dan tsunami yang melanda pantai selatan Jawa bagian barat, tak hanya seratusan orang. Setelah evakuasi dan penyisiran selama sepanjang Selasa (18/7/2006) kemarin, jumlah korban tewas mencapai 380 orang. Angka ini akan bertambah karena masih banyak orang hilang yang belum ditemukan.
Semula banyak orang menganggap bencana ini "kecil" dibandingkan dengan gempa DIY & Jateng, apalagi gempa dan tsunami Aceh dan Nias akhir 2004 lalu. Namun setelah menyaksikan kerusakan bangunan di sepanjang pantai, khususnya kawasan Pantai Pangandaran (Ciamis) dan Teluk Penyu (Cilacap), keganasan gelombang tsunami kali ini juga tak terbayangkan sebelumnya.
Selain korban tewas, hilang dan luka-luka, secara fisik tsunami Laut Selatan itu telah merusak ribuan rumah penduduk dan bangunan wisata berupa hotel, losmen, restoran, dan warung-warung di sepanjang pantai selatan. Tsunami juga telah menghancurkan 320 perahu milik nelayan di Jawa Barat, 386 di Jawa Tengah, dan 83 di DIY. Total kerugian material tengah dihitung. Namun dari data-data itu, sudah bisa dipastikan aktivitas ekonomi daerah yang dilanda tsunami berhenti. Sebaliknya, puluhan ribu pengungsi harus segera diurus. Meski laut telah tenang, penduduk belum kembali ke rumah yang masih bisa dihuni. Mereka masih trauma. Apalagi gempa susulan selalu terjadi. Dari gempa dan tsunami di pantai selatan Jawa bagian barat ini, setidaknya ada dua hal penting yang menjadi perhatian. Pertama, soal koordinasi penanganan korban dan pengungsi. Kedua, soal deteksi dini datangnya tsunami. Sekali lagi, meski bencana berulang terjadi, namun tetap saja pemerintah tidak mampu merespons dengan cepat. Kali ini pemerintah daerah yang menjadi titik masalah. Seperti diungkapkan Mensos Bachtiar Chamsah, pemda tidak cepat bertindak dalam mengurus pengungsi sehingga sebagian besar pengungsi pada hari kedua gempa tidak terurus. Padahal kiriman logistik sudah sampai lokasi. Masalah pengungsi yang tak terurus itu mungkin tidak akan berkepanjangan karena dari ratusan ribu pengungsi. Sebagian besar masih bisa kembali ke rumah-rumah yang masih bisa dihuni. Dus, kebutuhan tenda dan dapur umum tidak mendesak. Namun tetap saja, pembagian logistik harus menjadi perhatian, agar ketidakmerataan penyaluran sembako yang sempat terjadi pada gempa DIY dan Jateng tidak terulang.  Yang tak kalah penting adalah soal deteksi dini adanya tsunami. Meskipun terjadinya gempa tidak bisa diperkirakan, namun datangnya tsunami yang mengikuti gampa sudah bisa diprediksi bila dengan cepat kekuatan dan lokasi gempa ditemukan. Nah, masalahnya dalam kasus gempa Senin sore kemarin, data gempa yang dihimpun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) sepertinya tidak akurat, sehingga tidak tepat juga untuk memastikan ada tidaknya tsunami yang mengikutinya. Setelah dilakukan beberapa revisi, BMG mencatat kekuatan gempa terkuat adalah 6,8 skala Richter; sementara Pasific Tsunami Warning Center dan Badan Meteorologi Jepang mencatat kekuatan gempa 7,7 skala Richter. Seperti dilaporkan Jawa Pos, sesaat setelah gempa, Pasific Tsunami Warning Center dan Badan Meteorologi Jepang sesungguhnya sudah memperingatkan akan adanya tsunami. Peringatan ini sudah disampaikan ke pihak Indonesia 45 menit sebelum kejadian. Namun karena Indonesia sendiri tidak bisa mengkonfirmasi benar tidaknya peringatan itu, maka peringatan itu diabaikan. Kalau saja Indonesia meyakini kebenaran peringatan dari Jepang itu, masalahnya belum selesai. Sebab tidak gampang memberi peringatan penduduk sepanjang pantai selatan Jawa dalam waktu kurang dari 45 menit. Cara apa yang paling tepat digunakan agar dalam waktu singkat seluruh penduduk di kawasan yang akan diterjang tsunami bisa bersiap-siap menyelamatkan diri? Inilah soal penting. Langkah yang harus dilakukan adalah memperbaharui peralatan deteksi gempa agar BMG mendapatkan data yang lebih akurat. Selanjutnya, siapkan perangkat yang memungkinkan peringatan dini bisa diterima penduduk secara tepat. Ini penting sebab seperti diperkirakan para ahli geologi potensi gempa di patahan Laut Hindia sangat besar pada hari-hari mendatang. |