|
Gempa dan tsunami datang lagi. Kali ini menerjang kawasan pantai selatan Jawa bagian barat. Memang tidak sedahsyat gempa di DIY dan Jateng atau gempa yang diikuti tsunami di Aceh. Namun kekuatan alam itu telah menewaskan sedikitnya 100 orang, dan memporakporandakan permukiman di sepanjang pantai.
Seperti dilaporkan Kompas, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat merupakan kawasan terparah diterjang tsunami. Selain dekat dengan episentrum gempa, kawasan wisata ini berpenduduk lebih padat dibandingkan dengan daerah lain.
Selain Pangandaran, daerah pantai yang terkena tsunami antara lain Pantai Cipatuah (Tasikmalaya Jawa barat), Pantai Suwuk, Teluk Penyu, dan Lengkong (Cilacap Jawa Tengah), Pantai Samas, dan Parangtritis (Bantul, DIY). Gelombang tsunami setinggi 2-5 meter datang merambah daratan hingga 100 meter dari pantai. Tsunami datang setelah terjadi serangkaian gempa bumi yang berpusat di Laut Selatan. Menurut laporan Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi dan Geofisika (PGN-BMG), selepas tengah hari, Senin (17/7/2006) kemarin terjadi serangkai gempa yang disebabkan oleh bertumbuknya lempeng Indo-Australia dengan Eurasia. Seperti digambarkan Koran Tempo, Gempa pertama terjadi pukul 12.32 berkekuatan 5,3 skala Richter dengan pusat gema 125 km dari arah barat Bengkulu dan kedalaman 20,7 km. Gempa kedua terjadi pukul 15.19 berkekuatan 7,7 skala Richter dengan episentrum 240 km arah selatan Tasikmalaya dan ke dalam 10 km. Lalu diikuti lima gempa lain yang kekuatannya lebih kecil dengan episentrum sekitar gempa kedua. Gempa kedua yang merupakan gempa mayor menimbulkan tsunami yang akhirnya merambah permukiman di sepanjang pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tsunami menimbulkan kepanikan yang luar biasa sehingga penduduk pantai lari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi atau bukit-bukit terdekat. Sampai sejauh ini belum terhitung berapa kerugian material akibat gempa dan tsunami tersebut. Selain rumah-rumah penduduk dan kios-kios jualan, beberapa pusat jual beli ikan rusak, ratusan perahu nelayan juga hancur. Pencarian korban terus dilakukan. Angka sementara dari berbagai daerah, setidaknya 100 orang tewas. Namun diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah. Gempa dan tsunami langsung membetot perhatian Presiden SBY. Lewat saluran telepon seluler, Presiden menghubungi Bupati Ciamis untuk mendapatkan laporan. SBY lalu memerintahkan Gubernur Jawa Barat agar segera berkoordinasi dengan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Pengungsi, untuk segera mendapatkan bantuan yang diperlukan. Respons cepat dari pimpinan nasional atas bencana tersebut memang sudah seharusnya dilakukan. Tentu dengan harapan agar respons itu berbuah tindakan nyata, yakni tersalurkannya barang-barang kebutuhan yang dibutuhkan mereka yang terkena bencana. Bencana kali ini mungkin tidak sedahsyat gempa DIY dan Jateng atau tsunami Aceh, namun korban telah jatuh dan harus diberi pertolongan dan bantuan. Memang datangnya gempa dan tsunami tidak bisa diduga. Sampai sejauh ini belum ada teknologi yang bisa memastikan kapan gempa dan tsunami datang. Namun, seperti disampaikan oleh ahli-ahli geologi, terjadinya gempa dan tsunami di kawasan Laut Selatan bisa diperkirakan karena pergerakan lempeng Indo-Australia mencapai 7 mili meter per tahun, sehingga menekan dan menumbuk lempeng Eurasia. Sayang, para geolog hanya bisa mengira-ira, tumbukan dua lempaeng dunia yang kemudian menimbulkan gempa dan bisa disusul tsunami itu hanya dalam hitungan tahun; belum sampai pada hitungan bulan, apalagi minggu atau hari. Dengan demikian hari H datangnya gempa dan tsunami tak bisa dipastikan. Meski demikian, karena tumbukan lempeng Indo-Asutralia dan Eurasia yang berada di Laut Hindia itu terus terjadi, pemerintah mestinya tidak perlu bosan untuk mengingatkan agar penduduk, khususnya di kawasan selatan Jawa dan barat Sumatera, tetap waspada. Peringatan kewaspadaan itu mestinya juga dibarengi dengan persiapan logistik untuk mengatasi bila bencana benar-benar terjadi. |