spacer
spacer search

elcom.umy.ac.id
E:LEARNING COMMUNITY

Search
spacer
Kami mencoba lebih dekat anda, dengan mencoba mehilangkan batas waktu dan geografis.. Kalopun ada batas, pastilah bandwidth..Cry
 
header
Main Menu
Home
Warta
Articles
Search
Elearning FAQS
UmyAfiliates
SMUN 1 Teladan
SMUN 1 Imogiri
SMK Muh 2 Yogyakarta
SMAN 6
SMK 1 Pengasih
SMK Muh Semin
SMA Muh Bantul
Muallimin Muh
SMK Muh 1 Wates
SMKN Sewon
SMAN 1 Gamping
SMKN 1 Nglipar
SMA Muh 1 Wonosobo
SMAN 10 Yogyakarta
SMKN 1 Banjarnegara
SMAN 1 Purbalingga
SMAN 2 Purbalingga
SMA Piri Yogyakarta
SMA Muh Gombong
Mualimat Muh
U N A S
Elearning Pages
eLearning FAI
eLearning FE
eLearning FP
eLearning FH
eLearning Fisip
eLearning FT
eLearning FK
eLearning Pasca
eLearning UBL
eLearning PPB
Articles
 
Home arrow Warta arrow Opini arrow Menimbang Tenaga Nuklir: Bayang-bayang Chernobyl

Menimbang Tenaga Nuklir: Bayang-bayang Chernobyl E-mail
Kamis, 27 Juli 2006

ChernobylSetiap tanggal 26 April, tepat pukul 01.23, lonceng berdentang-dentang di Ukraina. Berturutan dengan bunyi lonceng, suara sirine pun membahana. Dan meskipun malam telah larut warga tetap terjaga. Mereka meletakkan bunga dan lilin di Monumen korban bencana Chernobyl.

Begitulah setiap tahun warga Ukraina memperingati bencana Chernobyl yang merupakan bencana nuklir terburuk di dunia. Upacara serupa juga digelar, di Slavutych, Rusia.

Slavutych adalah kota yang didirikan untuk menampung pekerja reaktor nuklir Chernobyl yang mengungsi akibat bencana. Upacara juga diperingati di negara tetangga Ukraina, Belarus. Negara ini juga menderita akibat bencana itu.

 
Bencana mengerikan itu tepatnya terjadi pada 26 April 1986 di di kota Chernobyl, wilayah utara Ukraina, yang berbatasan dengan Belorusia. Tepat pukul 01.23 waktu Ukraina, lonceng peringatan kebocoran radiasi nuklir dibunyikan. Saat itu ledakan merobek atap pembangkit listrik milik Uni Sovyet tersebut.

 Ledakan yang menimpa reaktor nomor 4 di pusat nuklir Cherbobyl itu kemudian menyebarkan radioaktif ke berbagai wilayah Uni Soviet dan Eropa. Kecelakaan ini bermula dari rencana untuk mengadakan percobaan untuk mengetahui kemampuan reaktor dalam keadaan darurat.

 

Namun perencanaan percobaan itu kurang matang. Percobaan juga belum mendapat izin dari pihak yang berwenang. Selain itu operator yang bertanggung jawab dalam percobaan itu bukanlah seorang ahli dalam bidang nuklir sehingga mengakibatkan reaktor tidak dapat dikontrol dengan baik.

Setelah ledakan itu, pemerintah Ukraina segera mengevakuasi 100.000 warga Chernobyl. Warga dua kota di sekitarnya, yaitu Prypiat dan Opachichi, yang berada dalam jangkauan radiasi juga ikut dievakuasi. Namun beberapa saat setelah bencana tersebut terjadi, sebagian besar warga senior kembali menetap di Chernobyl.
Warga nekat tinggal di wilayah yang telah terkontaminasi nuklir, dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Fasilitas nuklir terbesar milik Uni Sovyet tersebut memang baru benar-benar ditutup pada tahun 2000 atau 14 tahun setelah peristiwa peledakan. Penutupan dilakukan setelah reaktor nomor 3 berhenti beroperasi.

Setahun setelah bencana, jumlah penduduk kota Chernobyl terdata sebanyak 1.200 orang. Namun jumlah itu telah menyusut menjadi 300 orang saja pada tahun 2003. Sebagian besar warga meninggal akibat gangguan kesehatan yang disebabkan oleh radiasi nuklir.

Hingga kini berapa jumlah korbannya bencana Chernobyl belum pasti. Angka PBB memperkirakan, terjadi hingga 9.000 orang tewas akibat kanker. Namun laporan LSM Greenpeace yang dikeluarkan pertengahan April 2006 lalu memperkirakan angka 93.000 orang. Greenpeace juga memperkirakan jumlah korban cedera bisa mencapai 200.000 orang.

Sebelum Chernobyl, pada tanggal 28 Maret 1979, telah terjadi kecelakaan yang relatif kecil di TMI (Three Mile Island)-AS. Musibah terjadi karena operator tidak menyadari bahwa mereka telah melakukan prosedur yang salah sehingga mengakibatkan reaktor terlalu panas dan akhirnya meleleh. Tidak terdapat korban jiwa dalam musibah tersebut.

Musibah Chernobyl sempat dianggap sebagai akhir industri nuklir. Musibah ini memang telah meningkatkan penolakan terhadap PLTN. Dalam sebuah penelitian diketahui, setelah musibah itu, kelompok penentang yang semula hanya 26 persen meningkat menjadi 42 persen. Sementara pihak pendukung turun, dari 57% menjadi 49%. Hingga kini pun kelompok penentang selalu merujuk musibah Chenobyl bila menyebut bahaya tenaga nuklir.

Namun sebaliknya tetap muncul anggapan positif di balik musibah mengerikan itu. Kecelakaan ini justru menandai akan permulaan industri nuklir yang baru dan lebih aman.

 

 
Berikutnya >
spacer
Most Read

 
(C) 2010 elcom.umy.ac.id
spacer