|
Ketika berkendara di tengah kabut, cobalah cek speedometer. Anda mungkin tidak yakin ngebut secepat itu. Hal tersebut dapat terjadi karena tipuan pandangan. Saat kabut mengurangi ketajaman benda-benda di depannya, mata menganggap gerakan semu benda menjadi lebih lamban. Pada 1982, seorang psikolog Peter Thompson dari Universitas York, Inggris pertama kalinya mengetahui fenomena ini. Jika dua benda yang berbeda ketajamannya bergerak dengan kecepatan sama, orang akan melihat seolah-olah benda yang lebih tajam akan bergerak lebih cepat.
Para peneliti banyak yang menolak anggapan ini dan menyebut efek Thompson hanyalah akibat bentuk kelemahan alat penglihatan. Namun, beberapa tahun yang lalu, Eero Simoncelli, seorang ahli komputasi otak di Universitas New York, AS dan koleganya mencoba menjelaskan fenomena ini dengan prinsip-prinsip dasar penglihatan manusia. Simoncelli tahu bahwa mata tidak merekam apa yang dilihatnya sesederhana kamera. Sebaliknya, apa yang dilihat manusia tergantung pengalamannya di masa lalu. Misalnya, sebuah sosok benda di balik kabut dilihat sebagai truk oleh seseorang, tapi dianggap kapal oleh orang lainnya. Maka, ia dan koleganya menduga, jika bentuk benda yang terlihat samar-samar, orang lebih percaya pada pengalamannya. Pada makalah ilmiah yang ditulis tahun 2002, mereka menggunakan statistik Bayesian, salah satu cabang ilmu matematika, untuk membuktikan hal tersebut terjadi. Mereka juga berpendapat bahwa cara tersebut dapat menjelaskan efek Thompson. Baru-baru ini, Simoncelli dan Alan Stocker memastikan kebenaran teori tersebut melalui pengalaman langsung. Mereka meminta lima orang untuk menilai mana yang lebih cepat muncul dari sepasang garis di layar monitor. Masing-masing melakukan hal yang sama selama 6.000 kali dengan kecepatan dan ketajaman garis diubah-ubah. Stocker dan Simoncelli kemudian menggunakan Bayesian untuk membandingkan persepsi kecepatan yang dirasakan setiap orang dengan apa yang sesungguhnya mereka harapkan. Mereka memastikan bahwa setiap orang menganggap gerakan lambat walaupun sebenarnya cepat. Tim peneliti juga mengukur berapa besar kemungkinan orang berharap kecepatan lebih lambat dibandingkan yang berharap lebih cepat. "Ini membuka kesempatan untuk mempelajari lokasi yang mengenali kecepatan di otak," kata Matteo Carandini dari Institut penelitian Mata Smith-Kettlewell, San Fransisco. Temuan Simonceli yang dimuat dalam jurnal Nature Neuroscience ini, suatu ketika dapat berguna bagi para penderita stroke yang mengalami masalah dengan melihat gerakan. |