|
Gempa di Yogyakarta yang bersumber dari sesar Opak, yang membelah kota, menjadikan daerah-daerah lain di Jawa harus waspada terhadap sesar-sesar aktif yang melewati wilayahnya. Itu disebabkan tingkat subduksi Lempeng Australia terhadap Lempeng Eurasia relatif cepat, yakni 7 cm per tahun. Peringatan itu disampaikan Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Heri Haryono dan Kepala Bidang Dinamika Bumi dan Bencana Geologi LIPI Dr Haryadi Permana kepada pers di Jakarta. "Diketahui bahwa mekanisme pergeseran lempeng mikro yang menimbulkan sesar Opak dipengaruhi oleh tumbukan dua lempeng tersebut," kata Heri.
Selain sesar Opak yang sepanjang sejarah—paling tidak sejak tahun 1867—telah menimbulkan gempa yang merusak di Jawa (terutama di Jawa Barat), ditemukan pula beberapa sesar aktif. Di antaranya sesar Lembang, Bandung; sesar Cimandiri, Sukabumi; dan sesar Baribis, Subang. Kegempaan di Lembang, misalnya, pernah dilaporkan oleh Prof Tjia, pakar geologi yang kini bermukim di Malaysia. Sesar itu disebut aktif karena retakannya sampai ke permukaan dan lempeng mikro yang membentuk sesar mikro itu terus mengalami pergeseran akibat dinamika lempeng batuan di bawahnya. Aktivitas sesar di Jawa tersebut belum banyak diteliti karena tingkat aktivitas dan pola kegempaannya belum banyak diketahui. Penelitian sesar Jawa sebelumnya banyak dilakukan para geolog Belanda pada masa kolonial. Dengan terjadinya gempa Yogyakarta ini, ujar Heri, LIPI yang selama ini lebih banyak melakukan penelitian di sesar Sumatera akan mulai mengalihkan perhatian pula ke Jawa. Penelitian di pulau yang terpadat penduduknya ini memang perlu jadi prioritas mengingat risiko kegempaan di masa mendatang akan berdampak pada besarnya jumlah korban. Sebab itu, katanya, peta sesar harus dibuat untuk mengetahui apakah sesar aktif melewati kawasan permukiman. Berdasarkan itu, perlu dibuat mikrozonasi untuk menata kembali kawasan sehingga bencana gempa dapat diredam. Gempa Yogyakarta Pascagempa Yogyakarta, lanjut Heri, selama sebulan, LIPI akan terlibat dalam serangkaian penelitian seismologi dan geofisika di daerah itu. Tahapan pertama adalah memetakan gempa susulan. Tujuannya untuk menganalisis mekanisme dan sifat patahan serta untuk mengetahui kedalaman zona patahan. Untuk itu, telah dipasang 22 seismograf di sepanjang sesar. Pemasangan instrumen untuk pemetaan itu tidak hanya dilakukan oleh LIPI, tetapi juga oleh institusi riset lainnya, yaitu Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Universitas Gadjah Mada, dan BMG. Kegiatan itu juga melibatkan peneliti Jerman yang akan memasang 12 seismograf. Penelitian LIPI akan berlangsung selama sebulan, sedangkan peneliti Jerman akan menjalankan riset kegempaan itu selama tiga bulan. Kegiatan riset lainnya yang akan dilakukan LIPI adalah studi geofisika dan pelacakan kembali retakan di permukaan akibat gempa. Sementara pada saat bersamaan, ahli geologi teknik akan meneliti sifat-sifat batuan di bawah wilayah yang rusak terlanda gempa. Seluruh penelitian ini selesai Agustus mendatang. |