|
Karakter Bangunan yang Rusak di Jogja |
|
|
Senin, 12 Juni 2006 |
Ada 2 rekomendasi untuk mengurangi jumlah korban gempa di masa mendatang. Pertama, kawasan sekitar patahan/sesar Opak diharamkan untuk dijadikan pemukiman. Untuk tanah pertanian mungkin lebih baik. Kedua, jika pilihan pertama sulit dilaksanakan, maka bangunan di sekitar kawasan Sesar Opak harus diperbaiki struktur bangunannya. Nah, ini pe-er pemerintah. Dan kesadaran warga tentunya. Pilihan pertama kayaknya agak musykil walaupun mungkin. Berdasar ngobrol-ngobrol ama beberapa orang di daerah korban gempa, mereka males pindah dari desa walopun rumah rusak total. Yah..
Mencermati rumah-rumah yang rusak atau bahkan rata tanah di daerah Bantul dan Piyungan selama muter kemaren, bisa diketahui karakter kebanyakan mereka. Hampir gak ada kolom yang masih berdiri tegak. Atau bahkan mungkin emang rumah-rumah itu gak punya kolom bangunan. Tulang beton pun kadang tak punya. Padahal kolom suatu bangunan itu vital. Menurut I Wayan Sengara, dari Research Group on Disaster Mitigation, ITB, ada tiga jenis kerusakan bangunan yang terjadi akibat gempa 27 Mei. 1. Rumah yang roboh umumnya berusia tua atau dibangun sebelum 1960-an. Rumah-rumah yang dibangun dengan hanya menggunakan bahan kapur, dan tidak mempunyai besi bertulang. 2. Rumah yang lebih modern. Rumah yang dibangun dengan bata, tapi kolom fondasinya kecil. Biasanya rumah bertipe ini roboh sebagian dan retak-retak parah di dindingnya. 3. Rumah yang retak sebagian pada dinding. Biasanya terletak di perkotaan Bantul.Tanpa bermaksud SARA, temen gw yang anak Kalimantan bilang kalo orang Jawa tuh beken ngiritnya.. Mo bikin rumah, semennya diirit-irit. Kapurnya dibanyakin. Pasirnya ditambahin. Jelas aja, orang yang mahal semennya.. hehehe..Menurut temen gw nih, di Kalimantan sana, orang lebih cenderung besar pasak daripada tiang. (apa hubungannya ama bikin rumah, coba?!) Jadi, ketika mereka bikin rumah, mereka pengen yang terbaik buat rumahnya. Rumah temen gw aja berdinding kayu belian/ulin. Gila.. Padahal nebang tuh kayu aja susahnya minta ampun tuh.. He.. Beda dengan batu-bata, yang diketok palu ama pahat gedhe aja bisa bolong, kayu belian punya keuletan yang luar biasa. Kalo kayu laen direndem aer jadi lembek, ni kayu malah tambah kuat. Belajar Dari Pengalaman? Cuma Slogan.. Slogan yang selalu jadi hiasan dimana-mana, tapi jarang dipraktekkan. Dengan fakta bahwa di Jawa ini banyak gunung berapi yang aktif, orang yang pernah makan pelajaran geografi tingkat dasar pun mestinya tau kalo Jawa tentu bakal sering dilanda gempa.Sejak lama gw bertanya-tanya, kenapa gak ada pelatihan gempa kayak di Jepang sana ya? Padahal berapa puluh kasus gempa di Indonesia nih? Orang panik dan was-was disini kebanyakan karena kemakan isu. Plus mistis sana-sini. Dan bukan karena dibekali pengetahuan yang cukup. Logikanya mampet. Karena emang gak tau. Kata lagu sih, knowing nothing is better than knowing it all. Tapi kalo sampe kejadian kayak isu tsunami kemaren? Orang bisa mati sia-sia gara-gara tabrakan di tengah jalan. |