|
BMG menyatakan gempa Yogya 27 Mei 2006 ini memiliki episentrum di dasar samudera Hindia pada koordinat 8,26deg LS 110,31deg BT, dalam jarak 37 km diselatan kota Yogya. Sementara USGS menyatakan posisi episentrum justru adadi kawasan Pantai Samas atau tepatnya di muara Sungai Opak, pada koordinat8,007deg LS 110,286 deg BT sejauh 20 km ke arah selatan dari kota Yogya.Sementara EMSC - dari Eropa - menyatakan pusat gempa justru ada di sebelah timur Yogya, tepatnya di bawah kawasan Piyungan - Patuk pada koordinat7,851deg LS 110,463 deg BT sejauh 12 km dari Yogya. Namun ketiga lembaga itu sama2 menyatakan bahwa gempa tektonik ini berasaldari pure strike-slip alias pergeseran mendatar, bukan gerak naik / turun sebagaimana yang biasa terjadi pada zona subduksi.
Lepas dari pihak mana yang paling akurat, posisi2 episentrum ini cukup menarik. Episentrum-nya USGS berada tepat di sebuah patahan yang berarahtimur laut - barat daya dan membentang mulai dari kawasan utara CandiPrambanan hingga ke muara Sungai Opak. Episentrum-nya EMSC berada persis di bawah bukit2 kapur Pegunungan Sewu yang menjadi bagian horst patahan ini. Sementara episentrum-nya BMG, ternyata juga terletak di sekitar garisimajiner perpanjangan patahan ini ke selatan, menerus ke Samudera Hindia. Apa yang bisa diartikan dari sini ? (Hampir pasti) bisa dikatakan gempa kuat di Yogya berkaitan dengan aktivitas patahan Sungai Opak ini. Mungkin hal ini juga yang bisa menjelaskan mengapa daerah dengan kerusakanterparah (dan korban jiwa terbesar) ada di sumbu imajiner Bantul - Klaten, karena memang patahan ini membentang dari Bantul selatan hingga Klaten selatan (kawasan Prambanan). Barangkali hal ini juga yang bisa menjelaskan ambruknya stasiun KA Prambanan (sementara stasiun2 lainnya hanya rusak ringan) serta melengkung dan patahnya rel KA di antara stasiun Srowot -Prambanan, suatu hal yang " luar biasa " bagi sebuah gempa dengan magnitude5,9 - 6,3 skala Richter, yang lebih kecil dibanding misalnya gempa Nias ataupun gempa Kep. Mentawai tahun silam. Tentang patahan ini, bila anda pernah berwisata ke Parangtritis, sebelum memasuki gerbang kawasan wisata itu anda akan melintasi jembatan gantung yang membentang di atas sebuah sungai. Itulah Sungai Opak. Selain melintasi sungai, persis di jembatan ini anda sebenarnya juga sedang melintasi patahanSungai Opak, yang terpendam di bawah endapan vulkanik Gunung Merapi. Panorama di sebelah selatan jembatan tadi berbeda dibanding sebelah utara yang relatif datar. Selain bukit2 kapur, di sini juga terdapat mata airpanas (hot springs) Parangwedang, yang tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik ataupun post-vulkanik, namun disebabkan oleh patahan. Rupanya ruangdi bawah horst diisi oleh magma, namun bidang patahannya masih cukup kuat untuk menahan tekanan magma - beda dengan patahan sejenis di utara, yang tak sanggup menahan tekanan magma hingga magma bisa muncul ke permukaan Bumilewat bidang patahan dan terbentuklah jajaran gunung-gunung api Merapi, Merbabu dan Ungaran. Meski begitu magma di bawah horst tadi sudah cukup mampu untuk memanaskan air bawah tanah, yang kemudian keluar melewati bidang patahan sebagai air panas. Patahan ini pernah diteliti di akhir 1980-an dan disimpulkan bahwa ia telah mati. Sehingga tidak pernah diperhitungkan sebagai salah satu potensi bahaya bagi Yogyakarta dan sekitarnya. Fokus potensi bahaya di Yogya kemudian lebih ditekankan pada ancaman letusan Merapi serta gerakan tanah. Gempa tektonik - kalaupun ada - dianggap diletupkan oleh zona subduksi yang berada 300 km diselatan Yogya. Jauh hari sebelumnya Yogya dan sekitarnya juga pernah diguncang gempa besarpada Juni 1867, dengan magnitude sekitar 7. Gempa ini menimbulkan kerusakan dan korban yang luar biasa hingga manuskrip Kraton Yogya mencatatnya dengan candrasengkala " obah lapis pitung bumi " alias bergeraknya tujuh lapisan bumi, yang terjemahannya menunjukkan angka tahun 1867 Masehi. Candrasengkala ini menunjukkan betapa hebatnya guncangan tanah saat itu, hingga disebutkan menyebabkan bergeraknya tujuh lapisan bumi. Disini harus diingat bahwa kata " pitu (tujuh) " dalam kesusastraan Jawa merupakan kataserapan dari sastra Arab, dan digunakan untuk menyatakan hal yang jamak. Demikian besarnya guncangan saat itu hingga istana air Tamansari (yang dibangun Hamengku Buwono 1 seabad sebelumnya) rusak berat dan tidak pernah lagi ditempati / diperbaiki sampai saat ini. Tugu golong gilig yang menjadilambang kota Yogya sampai ambruk dan terbelah menjadi tiga bagian. Tanah longsor terjadi di mana-mana, dan dari sini muncullah toponimi " Terban "yang kemudian menjadi nama sebuah daerah di pinggir Sungai Code, di sebelahselatan kampus UGM.
Kini patahan itu (nampaknya) hidup kembali. Dan di sana, di bawah lembah Sungai Opak, gempa2 susulan terus berkejaran. Sekilas pergeseran patahan inimemang tidak besar. Bila gempa megathrust 26 Des 2004 menimbulkan pergeseran(rata-rata) 15 m dan (maksimal) 20 m, di gempa Yogya HANYA 5 - 10 cm. Namun bila kita bandingkan pergeseran ini dengan pergerakan patahan-patahan sejenis, yang banyak eksis di Jawa Barat seperti patahan Lembang - Cimandiri - Baribis, dimana kecepatannya (rata-rata) 0,2 mm / tahun, makanampak pergeserannya cukup besar. Apa yang menyebabkan patahan ini hidup kembali, apakah gempa megathrust 2004 silam ? Atau aktivitas Merapi yang memang sedang memuncak setelah istirahat berkepanjangan 5 tahun terakhir (hal yang memang tidak biasa)? Kita tidak tahu. Demikian juga, bagaimana masa depan patahan ini dan apa pengaruh getaran gempanya bagi dapur2 magma jajaran gunung2 api Merapi, Merbabu dan Lawu? Kita juga tidak tahu, dan (harapannya) semoga tidakmuncul hal lain yang lebih buruk. Sebab rakyat Philipina telah merasakan betapa sebuah gempa besar pada pertengahan Juli 1990 - yang menghancurleburkan kawasan Baguio - dengan pusat berjarak 100 km dari GunungPinatubo ternyata sanggup membangunkan gunung yang telah 600 tahun terlelap (dan tererosi berat) dengan munculnya erupsi freatik pada awal April 1991 yang terus berkembang hingga puncaknya menghasilkan letusan dahsyat ultraplinian pada pertengahan Juni 1991 dengan semburan abu mencapai ketinggian 34 km. Bumi bercinta, manusia menangis, kata van Bemmelen. Dan jujur saja, membayangkan semua kemungkinan2 itu, membuat saya pribadi jadi bergidik ngeri. Apalagi Merbabu dan Lawu memang sudah sangat lama terlelap, dan Merapi 1.000 tahun silam punya sejarah letusan teramat besar, hingga sanggup meruntuhkan dinding barat dayanya dan mengalirkan milyaran ton material vulkanik yang selanjutnya membentur Pegunungan Menoreh, membentuk perbukitan Gendol dan mengubur candi Borobudur.. Tapi itu ratusan tahun silam yang sempat memaksa berpindahnya kerajaan Mataram Kuno |